Tampilkan postingan dengan label MUTIARA HADITS QUDSIY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUTIARA HADITS QUDSIY. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Mei 2014

Hadis Qudsi bagian kedua



     Bagian kedua.

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي قَالَ: يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ؟ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ. يَا ابْنَ آدَمَ: اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي، قَالَ: يَا رَبِّ وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ؟ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي. يَا ابْنَ آدَمَ: اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي، قَالَ: يَا رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ قَالَ اسْتَسْقَاكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَمْ تَسْقِهِ، أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي” رواه مسلم

Dari Abi Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah kelak dihari kiamat akan berfirman:
“Wahai anak cucu adam, aku sakit dan kamu tidak menjengukku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta slam”, Allah menjawab: “Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya hamba-Ku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya?.  Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya niscaya kamu akan mendapatiku didekatnya”.
“Wahai anak cucu adam, aku meminta makanan kepadamu, namun kamu tidak member-Ku makanan”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah menjawab: “Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya hambaku fulan meminta makanan, dan kemudian kalian tidak memberinya makanan?.  Tidakkah kamu tahu, seandainya kamu memberinya makanan, maka sebenarnya akan kau dapati perbuatan itu di sisi-Ku.”
“Wahai anak cucu adam, Aku meminta minum kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku minum” , ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta slam?” Allah menjawab: “Seorang hambaku yang bernama fulan meminta minum kepadamu, namun tidak engkau beri minum, tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberi minum kepadanya, maka sebenarnya akan kau dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku”  (HR. Muslim).


Penjelasan hadis diatas:

Kebaikan yang kita berikan kepada orang lain pada hakikatnya adalah amalan yang langsung diterima oleh Allah swt (jika Dia meridhainya).



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا، قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ”.  رواه أبو داود(وكذلك ابن ماجه وأحمد) بأسانيد صحيحة.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata, Rasulullah bersabda:
“Allah swt berfirman: “Kesombongan adalah seledangKu, dan keagungan adalah kain(sarung)Ku, barangsiapa bersaing (turut memiliki) dalam salah satu dari kedua hal tersebut, maka benar-benar akan aku lemparkan dia di dalam neraka”. HR. Abu Dawud, begitu juga oleh Ibn Majah dan Imam Ahmad, dengan sanad yang shahih.

Penjelasannya:

Manusia tidak berhak berlaku sombong (takabur) karena takabur adalah salah satu sifat kebesaran dari kekayaan, keperkasaan dan kekuasaan-Nya.

Semoga bermanfaat




Jumat, 09 Mei 2014

Mutiara Hadits Qudsiy (1)




Bagian pertama

Pengertian Hadists Qusi.

Firman Allah terdiri atas dua macam: Al-Qur’an dan hadis Qudsi.
1.    Al-Qur’an: Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril. Ini mencakup kalimat / bahasa dan makna / kandungannya.
2.      Hadis Qudsi: Firman Allah yang diturunkan oleh Allah langsung kepada Nabi Muhammad. Makna / kandungannya dari Allah tetapi kalimat / bahasa dari Nabi Muhammad.

3.      Hadits Nabi: Segala perbuatan Nabi Muhammad yang mencakup ucapan, tindakan, sikap beliau.

         بسم الله  الرحمن الرحيم

عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِيهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ: ” يَا عِبَادِي: إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا. يَا عِبَادِي: كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ، يَا عِبَادِي: كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ، يَا عِبَادِي: كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ، يَا عِبَادِي: إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ . يَا عِبَادِي: إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي، يَا عِبَادِي: لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي: لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي: لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي، فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ. يَا عِبَادِي: إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ، ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ “. رواه مسلم (وكذلك الترمذي وابن ماجه(
Dari Abu Dzar Al Ghifari ra, dari Rasulullah saw  sebagaimana beliau meriwayatkan firman dari Rabbnya:  
“Wahai hambaku, sesungguhya Aku telah mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kedzaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku dzalim”. 
“Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah.”
“Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan”.
“Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang Aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian.”
“Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan di malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni.”
Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku”. 
“Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa diantara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun”.
“Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin diantara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka diantara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga.”
“Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku  lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan.”
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah mencela kecuali kepada dirinya sendiri.”  (HR. Muslim, begitu juga oleh Tirmidzi dan Ibn Majah)


Penjelasan hadis diatas:


    Amal kebaikan terbagi dua: Kebaikan untuk dirinya sendiri dan Kebaikan untuk Allah. 
  1. Kebaikan    yang untuk diri sendiri contohnya ibadah-ibadah mahdhah seperti shalat dan lainnya.   Sedangkan amal        yang untuk Allah adalah kebaikan yang kita berikan kepada sesama manusia.
    2. Semua yang kita miliki dan ni’mati adalah pemberian Allah.
    3. Perbuatan, baik atau buruk akan mendapat balasan.



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٌ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي، أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً . رواه البخاري وكذلك مسلم والترمذي وابن ماجه.
Dari Abi Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda:
“Telah berfirman Allah swt: ‘Aku adalah sebagaimana prasangka hambaku kepadaku, dan Aku bersamanya ketika dia mengingatku, dan jika hambaku mengingatku dalam dirinya sendiri, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku sendiri, dan jika dia mengingatku dalam sebuah kelompok / jama’ah, maka Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari kelompok itu. Dan jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya satu hasta, dan jika dia mendekat kepadaku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya satu depa, dan jika dia mendatangiku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat’ ”.  (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Penjelasan hadis diatas:

Allah akan memberi kebaikan, pahala atau hidayah tergantung dari manusianya. Jika manusia berbuat kebaikan maka Allah akan membalas kebaikan pula. Jika manusia mau mendekat, Allahpun akan mendekatinya. Seperti dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah: 152 dan At-Taubah:5




عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: “إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا، كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ، إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا، كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً. رواه البخاري ومسلم
Dari Ibn ‘Abbas r.a, dari Nabi saw tenta apa yang diriwayatkan dari Allah swt,  beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencatat semua kebaikan dan keburukan, siapa yang berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, maka Allah menulis di sisi-Nya pahala untuknya satu kebaikan sempurna.  Jika dia berkeinginan berbuat kebaikan  lalu dia melakukannya, maka Allah menulis pahala sepuluh kebaikan sampai 700 kali sampai beberapa kali lipat banyaknya.  Barangsiapa berkeinginan berbuat keburukan lalu dia tidak melakukannya, maka Allah menulis di sisi-Nya pahala untuknya satu kebaikan sempurna.  Jika dia berkeinginan berbuat keburukan lalu dia melakukannya, maka Allah menulis satu keburukan saja.”  (HR. Bukhari dan Muslim).



Penjelasan hadis diatas:


Rencana baik sudah membawa pahala dan renana buruk belum membawa dosa. Rencana baik dan dilaksanakan membawa pahala yang berlipat. Rencana buruk dan dilakukannya akan membawa satu dosa.